Senin, 01 Agustus 2011

RUMAH SAKIT Dr SLAMET TERHUTANG 21 MILYAR RUPIAH

MEDIA PUBLIK-GARUT. Jika sebuah perusahaan bangkrut sudah biasa dan sering kita dengar, namun bagaimana bila terjadi pada rumah sakit. Inilah yang dialami Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Slamet Garut. Rumah sakit ini terancam gulung tikar karena menanggung hutang hingga 21 milyar rupiah. Penyebabnya karena rumah sakit ini lebih banyak menampung pasien miskin yang ditanggung oleh Jamkesda. Akhirnya sejak 15 Juli lalu rumah sakit ini menutup pelayanannya dan tentu ini berita duka bagi pasien rumah sakit.

Kecemasan nampak jelas di wajah Rida, warga Nurul Huda Samaran Garut. Ibu muda ini, datang ke RSUD Slamet Garut untuk mendapat pertolongan medis, untuk bayinya yang menderita kelaian pada kedua kakinya.

Sebagai pasien tidak mampu, Rida juga membawa surat keterangan tidak mampu atau SKTM, sebagai bukti untuk mendapatkan pengobatan gratis. Namun apa daya, ternyata surat SKTM itu tidak berlaku lagi. Pihak RSUD Dokter Slamet Garut menolak dengan alasan masih belum melayani pasien miskin pengguna Jamkesda. Padahal bayinya yang baru berusia 2 bulan ini perlu sekali penanganan medis segera.

Hal yang sama juga dialami pasien bernama Jumati ini. Ia pernah datang ke RSUD Garut dengan mengantongi SKTM, namun warga kampung Tanah Beureum, Banyuresmi Garut ini terpaksa pulang kembali, dan membuang mimpinya, bisa sembuh dari kelumpuhan. Jumati, hanya terkulai tak berdaya, sambil meratapi kelumpuhannya tanpa bisa berbuat-apa-apa.

Begitu pula yang dialami Samsudin warga Kampung Cikeruh, ia terpaksa menunda harapannya untuk bisa sembuh dari penyakit tumor diperutnya yang makin membuncit. Pasalnya surat SKTM itu tidak berlaku lagi.

Padahal pemerintah Kabupaten Garut, 25 Juli lalu telah resmi mengeluarkan instruksi agar RSUD Dokter Slamet membuka kembali pelayanan Jamkesda. Sekertaris Daerah (Sekda) Imam Ali Rahman, menegaskan pasien miskin tidak boleh ditolak untuk mendapatkan pengobatan gratis.

Meski sudah mendapatkan jaminan dari Pemda Kabupaten Garut, namun kenyataan dilapangan ternyata berbeda. Masih banyak pasien miskin pengguna Jamkesda, seperti ibu Rida tadi tetap ditolak berobat gratis.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa RSUD Garut sepertinya mbalelo terhadap intruksi bupati ? menurut Direktur RSUD Dokter Slamet Garut, pihaknya bukan membangkang terhadap keputusan bupati, tapi ini terkait dengan tanggungan hutang yang besar yang berdampak pada terganggunnya biaya operasional rumah sakit.

Tanggungan hutang itu mencapai 21 milyar rupiah, karena RSUD Garut mengalami kelebihan kapasitas pasien pengguna Jamkesda sejak tahun 2010 lalu. Karena itu pada tanggal 15 Juli lalu RSUD Garut menutup sementara pelayanan Jamkesda.

Itu dilakukan, untuk mengevaluasi kembali program Jamkesda yang berlaku selama ini. Dan pada tanggal 25 Juli lalu pelayanan Jamkesda dibuka kembali hanya melayani pasien miskin yang menderita penyakit berat.

Penjelasasn Maskud itu sesuai dengan Peraturan Bupati Garut atau perbup, bahwa pasien Jamkesda, dianjurkan berobat di Puskesmas terlebih dahulu. Namun jika penyakitnya cukup berat maka dapat dirujuk ke RSUD dengan menggunakan pelayanan Jamkesda. Itu dilakukan untuk menghindari pembengkakan biaya pelayanan.

Seperti diberitakan, RSUD Garut secara mendadak menghentikan pelayanan kesehatan terhadap pasien Jamkesda sejak 15 Juli lalu karena RSUD Garut tidak memiliki dana operasional akibat Pemkab Garut menunggak utang pelayanan Jamkesda sebesar RP 21 miliar. Jika pelayanan itu diteruskan bisa berakibat RSUD Garut, terancam bangkrut.

Hal yang sama juga dialami RSUD Ciamis. Kasusnya hampir sama, yakni pemda setempat tidak segera membayar tunggakan hutang biaya pasien Jamkesda sebesar 2 milyar rupiah. Dan bila beban hutang itu tidak segera dibayarkan, RSUD ini juga akan mengalami nasib sama, yakni berhenti beroperasi alias bangkrut.

Mengingat begitu banyaknya pasien miskin yang perlu segera mendapat pertolongan medis, diharapkan pemerintah daerah segera melunasi beban hutang untuk kompensasi pelayanan Jamkesda, agar rumah sakit bisa beroperasi normal, dan pasien miskin yang jumlahnya jutaan, dapat segera mendapat pertolongan medis. (Tim)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar