Kamis, 23 Januari 2003

Senjata Khas Suku Dayak dan Suku Banjar Adalah Mandau Dan Sumpit

Oleh: Kastalani Ideris

MEDIA PUBLIK

Mandau, senjata tradisional Suku Dayak dan Suku Banjar

Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Suku Dayak dan Suku Banjar di Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia. Berbeda dengan arang, mandau memiliki ukiran - ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.


Mandau juga merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah, diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya.
Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.Mandau adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia. Berbeda dengan parang, mandau memiliki ukiran – ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah mandau.

Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak dan suku Banjar pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu mandau. Mandau merupakan sebuah pusaka yang secara turun-temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai oleh suku Dayak untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian mereka, seperti menebas atau memotong daging, tumbuh-tumbuhan, atau benda-benda lainnya yang perlu untuk di potong.

Setiap Mandau memiliki kumpang. Kumpang adalah sarung bilah mandau. Kumpang terbuat dari kayu, dilapisi tanduk rusa, dan lazimnya dihias dengan ukiran. Pada kumpang mandau diberi tempuser undang, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman uei (rotan). Selain itu pada kumpang terikat pula semacam kantong yang terbuat dari kulit kayu berisi pisau penyerut dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas. Mandau yang tersarungkan dalam kumpang biasanya diikatkan di pinggang dengan jalinan rotan.

Biasanya orang awam akan sering kebingungan antara mandau dan ambang. Ambang adalah sebutan bagi mandau yang terbuat dari besi biasa. Sering dijadikan sebagai cinderamata khas Kalimantan. Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang mandau akan sulit untuk membedakan antara mandau dengan ambang karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada mandau terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan mandau lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli. Sedangkan ambang hanya terbuat dari besi biasa. Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang mandau akan sulit untuk membedakan antara mandau dengan ambang karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada mandau terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan mandau lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli. Sedangkan ambang hanya terbuat dari besi biasa, seperti besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan atau batang besi lain.

Menurut literatur di Museum Balanga, Palangkaraya, bahan baku mandau adalah besi (sanaman) mantikei yang terdapat di hulu Sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Kecamatan Sanaman Matikei, Samba, Kotawaringin Timur. Besi ini bersifat lentur sehingga mudah dibengkokan. Mandau asli harganya dimulai dari Rp. 1 juta rupiah. Mandau asli yang berusia tua dan memiliki besi yang kuat bisa mencapai harga Rp. 20 juta rupiah per bilah. Bahan baku pembuatan mandau biasa dapat juga menggunakan besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan dan besi batang lain. Piranti kerja yang digunakan terutama adalah palu, betel, dan sebasang besi runcing guna melubangi mandau untuk hiasan. Juga digunakan penghembus udara bertenaga listrik untuk membarakan nyala limbah kayu ulin yang dipakainya untuk memanasi besi. Kayu ulin dipilih karena mampu menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan kayu lainnya.

Mandau untuk cideramata biasanya bergagang kayu, harganya berkisar antara Rp.35.000 hingga mencapai Rp.300.000 tergantung dari besi yang digunakan. Mandau asli mempunyai penyang, penyang adalah kumpulan-kumpulan ilmu suku dayak yang didapat dari hasil bertapa atau petunjuk lelulur yang digunakan untuk berperang. Penyang akan membuat orang yang memegang mandau sakti, kuat dan kebal dalam menghadapi musuh. mandau dan penyang adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan turun temurun dari leluhur.

Sumpit atau lebih dikenal di daerah Kalimantan Tengah dengan sebutan sipet adalah salah satu senjata yang sering digunakan oleh suku Dayak maupun oleh masyarakat Melayu. Dari segi penggunaannya sumpit atau sipet ini memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami. Dan salah satu kelebihan dari sumpit atau sipet ini memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 218 yard atau sekitar 200 meter.

Sipet atau Sumpitan Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm, panjang 1,5 – 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ – ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak sumpitan.

Dilihat dari bentuknya sumpit, sumpit memiliki bentuk yang bulat dan memiliki panjang antara 1,5-2 meter, berdiameter sekitar 2-3 sentimeter. Pada ujung sumpit ini diolah sasaran bidik seperti batok kecil seperti wajik yang berukuran 3-5 sentimeter. Pada bagian tengah dari sumpit dilubangi sebagai tempat masuknya damek (anak sumpit). Pada bagian bagian atas sumpit lebih tepatnya pada bagian depan sasaran bidik dipasang sebuah tombak atau sangkoh (dalam bahasa Dayak). Sangkoh terbuat dari batu gunung yang lalu diikat dengan anyaman uei (rotan).
Jenis kayu yang biasanya digunakan untuk membuat sumpit pada umumnya adalah kayu tampang, kayu ulin atau tabalien, kayu plepek, dan kayu resak. Tak ketinggalan juga tamiang atau lamiang, yaitu sejenis bambu yang berukuran kecil, beruas panjang, keras, dan mengandung racun. Tidak semua orang memiliki keahlian dalam membuat sumpit atau sipet. Di Pulau Kalimantan saja hanya ada beberapa suku saja yang memiliki keahlian dalam pembuatan sumpit, yaitu suku Dayak Ot Danum, Punan, Apu Kayan, Bahau, Siang, dan suku Dayak Pasir.

Dalam proses pembuatan sumpit atau sipet dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama ketrampilan tangan dari sang pembuat. Cara kedua, yaitu dengan menggunakan tenaga dari alam dengan memanfaatkan kekuatan arus air riam yang dibuat menjadi semacam kincir penumbuk padi. Harga jual sumpit atau sipet telah ditentukan oleh hukum adat, yaitu sebesar jipen ije atau due halamaung taheta.

Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau sipet ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau sipet hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti berburu. Sipet ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak-injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat.



Selain itu juga Lonjo atau Tombak merupakan salah satu senjata khas Suku Dayak dan Suku Banjar. Lonjo atau Tombak terbuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras.


Dohong juga merupakan salah satu senjata khas Suku Dayak dan Suku Banjar. Senjata ini semacam jenis keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya terbuat dari kayu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.
Telawang atau juga disebut dengan Perisai juga merupakan senjata khas Suku Dayak dan Suku Banjar Telawang atau Perisai ini terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan. Alat ini digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh atau lawan.***

Minggu, 26 Mei 2002

Pambatangan

Matahari hanyar batumat mancungul. Cahahnya haja nang pina bagirap, tambus matan sasala rarapunan. Ari pagun baambun. Banyu lagi pasang. Sanusi duduk maungut saurangan di atas batang nang sudah di karut di sambung-sambung jadi lanting. Samalaman matanya kada kawa taguring. Sasatumat badiri, sasatumat baduduk pulang. Ruku sambung putting. Pananjak kada lapas pada tangan.
            Matan di hulu
Mambawa rakit bagandengan
Bahanyut matan di udik Barito
Awal hari baganti minggu
Lagu “ pambatangan “ ulahan Fadly Zoor tadangar bunyi mailun matan kalotok nang mahrit batang bapapuluh dapa pada haluan lanting. Mandangar sir lagu nangitu, Sanusi jadi taganang wayah inya sakulah bahari. Kada pang mun talalu lawas. Ada bangsa sapuluh tahun kalu mun inya kada tasalah rikin. Wayah lagi di SMA tu, sambil bagagitaran lawan bubuhan kakawalannya,liwar rancak manyanyiakan lagu nangitu. Kada tahu pang inya mun cagar nang kaya maitingakan kisah dalam sair lagu nangitu ha lagi.
Bahari ti, ngalihai dikisahakan.Nang ngaran wayah lagi aanumanlah,wayah lagi rami-raminya bagandak maudaki babinian,tamasuk undasnya tu pang inya. Ai, siapa yang kada tahu lawan si Sanusi? Anak tunggal Haji Jarkasi,juragan kapal dikuin cerucuk.Sa-Banjaran urang tahuan lawan kuitan juriatnya.Sabarataan urang tahuan lawan diinya. Sudah anak urang sugih, anak urang badahi, bungas ha pulang muha. Nang hapa haja di puruknya musti taliat pina pantas haja tu pang lawan kalung. Ayu, katia kada kacarlah bibinian mun sudah tajanaki di inya. Di kawainya saikit haja gin, cah, sudah am laju pada garubak tu pang saku handak manukui.

***


Lanting tarus balarut dibatak kalotok. Taganang wayah bahari, awak Sanusi asa manggaliwayang.manggisitbatis kiwanya tagulingsir pada kajajakan. Jakanya kadasawat manyintak, tacabur ka banyu tu pang awaknya saikungan. Baik mun kada tagapit di sasalagbatang. Tagal, tuhan lagi batulung. Pananjak di tangan kawa jua di hagaakan.
Kada saapa, taduduk pulang Sanusi. Maungut pulang di atasbatang. Jakanya ada urang nangtajanaki parigal inya wayahitu, saku bakalan kada kawa tu pang mun kada takurihing. Bahanu lihum saurang, bahanu pina mandam muhanya sambil maitihi ilung-ilung nang larut di kiwa-kanan lanting. Bahanu di kaisnya lawan pananjak, Bahanu di biarakannya haja tarus balarut mairingakan banyu sungai nang sadang landasnya. Nang kaya hatinya wayahini jua, kada karuan rasa maristaakan nasip awak saurang.
Rusman…., Rusman, jar  hati sanusi sambil tarus maharungut duduk manyurangan di atas batang. Di mana alah ikam wayah ini ding? Asa labih pada sapuluh tahun sudah kita kada suah batamuan lagi salawas itu jua aku kada suah tajanaki biji mata ikam lagi. Nang kaya apalah nasip ikam wayahini, ding? musti pang inya sudah baranak batanah banyu hidup lawan si Yanto, lakinya nang urang subarang nangitu. Maharam kita tapisah, asal hidup ikam bauntung. Maharam kita kada takawin, asal hidup ikam kada marista nang kaya diaku. Nasip, nasip!
Sanusi pagun liwar ingatnya, wayah inya badua sama-sama sakulah SMA bahari. Sabarataan kakawalannya sudah tahuanmun inya lawan Rusma kada lawas lagi pacing batanaggar tungku batajak sarubung. Bangsa pitung bulan lagi, limbah taimbai tamat sakulah kaina, inya cagar di kawinakan ulih kuitannya badadua. Bakal bakarasmin ganal-ganalan. Wayahituti saban hari kasana-kamari, musti inya kuntang –kantung bajalan badua Rusma. Jaka paribahasa bubuhan kakawalannya, inya nang kaya Romeo lawan Julia atawa nang kaya Hais lawan Laila. Ujar paribasa urang tuha bahari jua, inya badua tu pas nang kaya kukang kada talapas pada pagutan.
Limbah hitu pulang, inya badaduaan tu dasar nang kaya sudah dijuduhakan lawan Nang di atas. Kadadaan tu pang wawadaannya. Nang kaya pinang dibalah dua tih, habisai kisah. Sanusi anak juragan kapal, ada Rusma anak urang badahi jua. Kuitan Rusma pagawai badadua. Abahnya panilik, ada umanya jadi guru. Cucuk habar lawan pata. Habar bakakawinan gin sudah lacit jua talinga bubuhan paguruannya. Tagal, lahai jua, kayaannya garis nasib lain lawan kahandak manusia. Kaputingannya, kahandak ampun-nya jua nang tajadi. Untung kada usah di sasah-sasah, lamun cikala kada pang kawa didikipaiakan.
Limbah ari bangsa tinggal talu bulan lagi handak ujian paampihan, tang keluarga Sanusi kana musibah nang liwar barat kada kasandangan. Abah lawan umanya taimbai badadua, mati saitu-saini pas rahatan bulik bahaji. Ujar habar, pesawat nang di umpati bubuhan rumbungan sidin gugur kacilakaan di kolombo.
Limbah mandangar habar burung nangitu, balalu asa kadap panjanak Sanusi. Asa lamah bakaliwaran lintuhutnya. Taduduk inya piar manangis manggaraung sambil bakusur-kusur nang kaya kakanakan lagi maraju. Matan cakada kawa di bisai.
“ Abahku . . . .abahku. umaku. . . . umaku,” ujarnya bakuriak papar.
Habis kajadian nangitu, saminggu, dua minggu talu minggu, lacit babulan-bulan Sanusi hidup kada karuan tampuh lagi, kalakuannya mulai pina baubah. Siang-malam inya pina kada marumah lagi, mulai umpat banginginuman. Katuju jua umpat bakakabutan lawan bubuhan kakawalannya nang dasar sudah ugal-ugalan badahulu, lampu sapida mutur di jualnya, salibur di paculnya. Bunyi masin Honda haja nang maukur kartak. Talu bakas inya tahumbaling, cakada intat-intat.diliatakan urang inya tacabur kapaliungan, tatap haja kada tatahu. Kaputingannya, ganap nang kaampat bkas inya tarabah. Tapaksa urang kampung batulung malariakan inya ka rumah sakit. Mumui darah di kupalanya. Bunyi manggaruh pahinakannya. Pina latuk tulang batisnya.
“ kanapa pian jadi nang kaya ini, ka”? ujar Rusma wayah manunggui Sanusi di rumah sakit. Dipusutinya bagamat bumbunan Sanusi. Asa liwar harung hatinya bakal malihat nang laki tapangai kada sing garakan. Tagal, urang nang di pandiri pagun haja kada sing bangunan di pambaringan. Samalamn Rusma manunggui, tatsp haja mata Sanusi bakantupan. Jangan kawa di pandiri, di bisiski di higa talinga haja inya kada mandangar. Mata Rusma makaam pina bangkur manages kada sing rantian.
“ ka, kasiani ulun jangan di tinggalakan,” ujar Rusma pulang babisik baadu-adu katalinga Sanusi. “ kasiani ulun, nang kaya apa kaina mun ulun saurangan. Kita sudah bajanji handak hidup barumah tangga. Kuitan ulun sudah katuju lawan pian. Kanapa pian jadi nang kaya ini? Ka Sanusi, bangun, ka. Pian musti bangun. Ka-ai. Kasiani ulun jangan di tinggalakan.”
Hati Rusma asa sasain harun maliat mata Sanusi pagun haja kada siang bukaan. Banyu matanya simbak-simbur kada katatahanan. Dipusutinya bumbunan lalakian nang paguni tapangai di karabahan nitu. Tagal, tatapai mata Sanusi bakantupan. Pagunai pahinakan Sanusi tahalat tunggal butingan.
“ ka, kanapa pian jadi nang kaya ini?”
Mata sanusi kada sing bukaan.

***

Bangsa sabulan limbah Sanusi kaluar pada rumah sakit, Rusma datang baadu-adu sambil manangis basasigan. Nang kaya wayah inya manungui Sanusi wayah tapanggai di rumah sakit, simbak-simbur banyu matanya sambil mamaguiti awak Sanusi sing pisitan. Sakali ini inya sudah kada kawa baindah lagi. Samlam ada urang bapara. Samalam ada lalakian nang badatang kakuitannya. Malam arinya, mama-abah wan bubuhan dingsanak kaluarganya langsung barunding. Saitu-saini langsung jua di putusakan. Bulan rajab inya musti di kawinakan.
Mandam muha Sanusi mandangar aaduan Rusma.
“ ih . . . . , jadi ikam ni cagar lakas dikawinakanlah?” ujar Sanusi nang dingin.
“inggih, ulun pinanya kada kawa bakulah lagi pang, ulun sudah saraba santuk, ka-ai. Lamun cagar kada hakun manyupanakan kuitan, lamun di hakuni cagar manyakiti pian. Lamun kawa ti, ulun indah kadaduanya pang, nang kaya apa am manurut pian, ka?ujar paribahasa urang bahari, nang kaya apa supaya kirat kada mati, ular kada kalaparan. Kita balari hajar ujar, angkuhnya?”
Sanusi takurihing simpak.
“ Siapa garang ngaran lakian tuti, ding?”
“Ulun tahunya Yanto haja pang, ka-ai.”
“Uh . . . inya urang jawa-ah?”
“ Inggih, ujar ti inya urang jawa parantawan.”
“ Nangapa gawian di banjar  ni?”
“ Ujar acil Galuh ti, inya pagawai PU pang.”
“ Lawan siapa inya di sia, ding?”
“Saurangan kalu, kaluah jua, ka-ai.”
Muha Sanusi pina mandam pulang. Hinip kada sing bunyian. Rusma hinip jua mahadang nangapa nang di ucpakan sapasangannya. Limbah bapikir satumat manimbang-nimbang, balalu inya babunyi lamah-limambut, “ Tarima ha inya, ding-ai. Hakuni haja. Ayuha ikam kawin badahulu pada diaku. Kawinan ha ding-ai, ikam lawan diinya. Muahan judu ikam lading. Mudahan ikam kawin tuntung – pandang. Ruhui-bahayu ikam baanak cucu. Aku rila aja ikam tinggalakan nang kaya ini. Nang ngaran cinta tu kda musti pang kalu harus takawin mun dasar kada bajudu. Nang ngaran cinta tu, lamun ikam bahagia musti pang aku taaumpat bahagia jua. Tarima ha inya, ding-ai aku sudah rila haja malapas ikam. Aku rila haja ikam tinggalakan.”
Rusma takajut. Asa galugupan ha dadanya. Sakali ini muhanya nang pina wirai. Kada di kira talinganya cagar mandangar ucapan Sanusi nang kaya itu. Antah lantaran asa badusa atawa  marga marasa kahimungan, sambil manangis tangan rusma maragap awak Sanusi sing pisitan. Nang kaya urang nang kada hukun balapas lagi. Nang kaya urang nang handak bapisah balawasan. Kaputingannya, Sanusi ha nang marasa saraba salah. Asa saraba ngalih. Awaknya nang pagun lamah-kuhai. Kada kawa balapas pada baupang di tungkat, parak tahandadar lantaran manyandang pagutan Rusma nang sipisitan. Handak malapas asa kada purun. Handak bapadah kasakitan katia supan. Asa kajar batisnya badiri kalawasan. Paampihannya, tapaksaai inya manahani sambil bakuringisan kasakitan. Rusma pagun haja ragap papan.

***




Matahari sudah naik limpau pada samninjak. Saku ari sudah parak mamukul sawalas. Umbayang awak Sanusi pna parak cagat di atas batang. Di buritan lanting, cahaya matahari pina mandirapbakilau-kilau di atas banyu nang bagalumbang asa silau mata Sanusi wayh manjanaki. Warik, hirangan, bakantan, bangkui lawan tupai cibai-cibaian baluncat di dahan rambai baluncat di dahan rambai di kiwa-kanan sungai. Hulu barito sudah talalu jauh di lalui.pulang pisau, Kapuas lawan anjir sudah jua kalaluan di balakang. Satumat lagi kalotok di haluan sudah parak masuk ka muhara Banjar.
Limbah sakali-sakali Sanusi badiri mangais ratik nang takait di higa lanting lawan pananjak, balalu inya baduduk
Inilah nasib
Manjadi urang pambatangan
Lamun nasib sudah di tantuakan
Insya allah ada harapan
Insya allah ada harapan


Banjarmasin,   Mei 2002